Bayangkan sebuah ruang baca tanpa rak buku yang nyaman, koleksi yang sudah usang, dan anak-anak yang lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain daripada membuka halaman buku. Itulah gambaran nyata yang terdapat pada Komunitas Gerakan Suka Baca (KGSB) di Sekolah Master, Pancoran Mas, Depok. Sebuah komunitas yang sudah bergerak sejak 2016, tetapi masih bergulat dengan minat baca anak kelas 5-6 yang jauh dari harapan.

Apa yang terjadi di komunitas tersebut juga mencerminkan sebuah permasalahan serius yang dialami anak Indonesia. Di mana literasi anak Indonesia masih berada di urutan ke-69 dari 81 negara dalam hasil PISA 2022. Angka ini menjadi alarm pengingat bagi kita bahwa literasi bukan hanya sekedar menyediakan buku dan membaca. Namun, lebih dalam dari itu. Bagaimana cara kita untuk dapat memahami, mengkritisi, dan menghubungkan bacaan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan. Sayangnya, kemampuan anak Indonesia dalam berliterasi belum sedalam itu. 

Dari kondisi tersebutlah, Tim PKM PGSD BINUS University tergerak untuk hadir membawa ide sederhana namun penuh makna: bagaimana kalau dongen Nusantara dikemas menjadi sesuatu yang dapat disentuh, dibuka, dan “hidup” di tangan anak-anak?

Awalnya, Tim PKM ini sempat berencana untuk menyediakan ratusan eksemplar buku dongeng untuk dapat digunakan oleh anak-anak. Namun, rencana tersebut mentok di lapangan. Tim merasakan kesulitan untuk dapat menemukan buku dongeng yang secara visual menarik untuk anak. Bukan karena bukunya tak ada, tetapi karena yang menarik dan relevan itu langka. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, tim memilih untuk membuat pop-up book sendiri. Mereka merancang dan membuat 18 pop-up book dari nol dengan mengangkat cerita-cerita yang akrab di telinga anak Indonesia seperti Si Kancil, Malin Kundang, Lutung Kasarung dan masih banyak lagi. Buku-buku tersebut juga dilengkapi dengan ilustrasi warna-warni dan elemen tiga dimensi yang muncul ketika halaman dibuka.

Jumlah buku yang dibuat memang jauh lebih sedikit dari rencana awal yang telah dibuat. Namun, tim berkata bahwa buku yang lebih sedikit tetapi berkualitas, menarik, tahan lama, dan bermakna justru dipercaya lebih membekas di memori anak-anak, dibandingkan buku dongeng biasa. 

Hal yang unik dalam kegiatan ini, setiap pop-up book tak datang sendirian. Terdapat kartu-kartu pernyataan yang menyertainya. Isinya bukan hanya pertanyaan hafalan biasa. Namun, pertanyaan yang mengajak anak menelusuri tokoh, alur, konflik, sampai pesan moral dari cerita yang baru mereka baca. Salah satu contoh dari kartu pertanyaan tersebut yaitu “kalau kamu menjadi tokoh utama, keputusan apa yang akan kamu ambil?”. Pertanyaan ini menantang dan memantik anak-anak untuk dapat berpikir, bukan sekedar menjawab benar atau salah.

Supaya semangat anak-anak tetap terjaga, tim juga menyelipkan sistem bintang. Setiap kali anak menjawab pertanyaan dengan benar atau mendekati benar, mereka mendapatkan bintang yang nantinya dapat ditukar dengan hadiah.

Program kegiatan ini sendiri tidaklah instan, butuh waktu sekitar 5 bulan. Mulai dari tahap persiapan, koordinasi dengan pengelola KGSB, sampai 2 bulan terakhir untuk pelaksanaan dan diseminasi hasil.

Setiap sesi yang dilaksanakan dalam kegiatan ini berlangsung sekitar 15 yang disusun dengan rapi mulai dari ice breaking, anak memilih dan membaca pop-up book, menjawab kartu pertanyaan, sampai sesi refleksi di mana anak menceritakan kembali isi dongeng dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi mereka. Walaupun begitu, tentu perjalanannya tak selalu mulus. Kehadiran anak yang naik turun karena harus membantu orang tua atau ada kegiatan lain membuat tim harus mengatur ulang kelompok membaca.

Program yang cukup panjang ini melibatkan kolaborasi dari banyak pihak yaitu dosen dan mahasiswa PGSD sebagai fasilitator, observer, dan dokumentator. Tak hanya itu, pengelola KGSB pun dilibatkan sejak perencanaan hingga pelaksanaan agar program ini dapat terus berjalan secara mandiri setelah masa pendampingan selesai. Kak Renita, pendiri Gerakan Suka Baca, menyampaikan rasa terima kasihnya atas inovasi segar yang telah dihadirkan Tim PKM PGSD BINUS University, sekaligus berharap  kolaborasi ini membawa manfaat bagi para dosen dan mahasiswa (Sumber: Tempo News). 

Melalui pop-up buku dongeng, kartu tantangan, dan sistem bintang, “Menjelajah Nusantara” menunjukkan bahwa literasi tidak selalu berbasis teknologi canggih. Cerita rakyat yang dikemas secara interaktif dan kreatif justru dapat menjadi jembatan bagi anak-anak untuk berpikir kritis, percaya diri, dan tetap berakar pada budaya bangsa.