Nyatanya Pendidikan Indonesia Belum Siap untuk Perubahan
Muhammad Robin Alfareza
Pendidikan dasar di Indonesia memegang peran sentral dalam membentuk masa depan generasi muda dan bangsa. Meskipun ada kemajuan dalam akses pendidikan, ketimpangan yang masih terjadi di berbagai wilayah menjadi tantangan besar. Di beberapa daerah perkotaan, anak-anak menikmati fasilitas dan tenaga pengajar yang berkualitas. Namun, bagaimana dengan anak-anak di daerah terpencil? Tidak jarang mereka harus belajar di bangunan sekolah yang rusak, minim akses internet, dan bahkan kekurangan tenaga pengajar. Faktor infrastruktur yang tidak memadai, kualitas pengajaran yang bervariasi, serta minimnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, membuat kesenjangan tersebut semakin mencolok. Tantangan ini memerlukan solusi dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta, demi memastikan bahwa semua anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
Salah satu tantangan utama dalam pendidikan dasar di Indonesia adalah kesenjangan akses yang mencolok, terutama di daerah-daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T). Di banyak wilayah ini, anak-anak menghadapi berbagai hambatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Infrastruktur yang kurang memadai, akses transportasi yang sulit, dan kekurangan tenaga pengajar yang berkualitas menjadi beberapa faktor penyebab utama. Banyak sekolah di daerah terpencil tidak memiliki fasilitas dasar seperti ruang kelas yang layak, akses listrik, dan konektivitas internet, yang menyebabkan anak-anak di wilayah tersebut sering kali tertinggal dalam pencapaian akademik dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di perkotaan.
Selain masalah akses, kualitas pengajaran di Indonesia juga sangat bervariasi. Sementara beberapa sekolah di daerah perkotaan memiliki guru yang terlatih dan fasilitas yang memadai, banyak sekolah di daerah pedesaan dan terpencil menghadapi kekurangan dalam hal pelatihan guru dan sumber daya. Kurikulum yang diterapkan sering kali tidak sesuai dengan kondisi lokal, sehingga proses belajar mengajar menjadi kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Perbedaan kualitas ini berdampak pada motivasi belajar dan partisipasi siswa, yang pada gilirannya memengaruhi hasil akademik mereka.
Masalah infrastruktur pendidikan yang tidak merata juga turut berkontribusi pada tantangan pendidikan dasar. Banyak sekolah dasar di Indonesia masih kekurangan fasilitas penting, seperti ruang kelas yang layak, perpustakaan, laboratorium, dan akses teknologi. Di beberapa daerah, siswa harus belajar dalam kondisi yang kurang ideal, seperti di ruang kelas yang rusak atau bahkan di luar ruangan. Keterbatasan infrastruktur ini sangat memengaruhi kenyamanan dan kualitas pembelajaran siswa, dan pada akhirnya berdampak pada hasil pendidikan mereka.
Selain itu, partisipasi orang tua dalam pendidikan juga sering kali menjadi faktor penting yang terabaikan. Di banyak daerah, partisipasi orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka masih rendah, seringkali disebabkan oleh faktor ekonomi atau kurangnya pemahaman tentang pentingnya keterlibatan dalam proses pendidikan. Kurangnya dukungan belajar di rumah ini dapat menghambat perkembangan akademik siswa, menjadikannya kurang siap menghadapi tantangan pendidikan yang ada.
Tantangan-tantangan dalam pendidikan dasar di Indonesia memiliki dampak yang signifikan pada siswa. Kesenjangan dalam akses dan kualitas pendidikan menyebabkan perbedaan prestasi akademik yang mencolok antara siswa di daerah perkotaan dan daerah terpencil. Siswa di daerah terpencil sering kali memiliki pencapaian yang lebih rendah dalam literasi dan numerasi dibandingkan dengan siswa di wilayah perkotaan.
Kondisi belajar yang kurang memadai juga berdampak pada motivasi belajar siswa. Siswa yang belajar dalam kondisi yang tidak ideal mungkin merasa kurang termotivasi dan kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat menyebabkan angka putus sekolah yang lebih tinggi dan rendahnya tingkat kelulusan, yang pada gilirannya menghambat potensi mereka untuk meraih peluang di masa depan.
Lebih jauh, ketidakmampuan untuk mengakses pendidikan yang berkualitas dapat mempengaruhi kesejahteraan mental dan emosional siswa. Lingkungan belajar yang buruk dan kurangnya dukungan akademik dapat menyebabkan stres dan rasa frustasi, yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental siswa. Dampak jangka panjang dari ketidakcukupan pendidikan ini dapat menghambat perkembangan pribadi dan profesional siswa di masa depan.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai upaya perbaikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar. Salah satu inisiatif utama adalah penerapan Kurikulum Merdeka, yang memberikan fleksibilitas kepada sekolah dan guru dalam menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kurikulum ini menekankan pembelajaran berbasis proyek dan pengembangan karakter, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara yang lebih relevan dan adaptif terhadap kebutuhan lokal.
Pemerintah juga fokus pada digitalisasi sekolah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan akses pendidikan. Program-program digitalisasi bertujuan menyediakan perangkat digital dan akses internet bagi sekolah-sekolah di wilayah terpencil, serta mendukung pembelajaran daring yang lebih efektif. Digitalisasi pendidikan diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara siswa di daerah terpencil dan siswa di perkotaan, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan ekonomi digital.
Untuk meningkatkan kualitas pengajaran, pemerintah telah melaksanakan program sertifikasi guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru dan memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk memberikan pengajaran yang berkualitas. Selain itu, pemerintah juga mendukung perekrutan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk mengisi kekurangan tenaga pengajar di daerah-daerah yang membutuhkan.
Program Indonesia Pintar (PIP) adalah langkah penting dalam memperbaiki akses pendidikan. Melalui program ini, pemerintah memberikan bantuan biaya pendidikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu, dengan tujuan memastikan bahwa masalah ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan. Program ini mendukung siswa dari jenjang SD hingga SMA, termasuk pendidikan nonformal, dan bertujuan untuk mengurangi angka putus sekolah.
Dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan dasar di Indonesia, pemerintah memperkenalkan inisiatif SIGAP (Sistem Integrasi Pendidikan dan Kesejahteraan Anak Pintar). SIGAP merupakan pendekatan holistik yang menggabungkan tiga pilar penting untuk menciptakan pendidikan yang inklusif dan berkualitas.
- Pilar pertama adalah penguatan literasi dan numerasi melalui Asesmen Nasional (AN), yang bertujuan meningkatkan kompetensi akademik siswa dengan mengukur kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah.
- Pilar kedua mencakup revitalisasi pendidikan di daerah terpencil melalui Program Sekolah Garis Depan (SGD), yang bertujuan memperbaiki akses dan kualitas pendidikan di wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). S
- Pilar ketiga menitikberatkan pada kesejahteraan siswa melalui Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), yang tidak hanya mencakup kebersihan dan kesehatan fisik, tetapi juga mendukung kesehatan mental siswa. Melalui SIGAP, pemerintah berusaha menciptakan sistem pendidikan yang lebih tanggap dan terintegrasi, guna mempersiapkan generasi muda yang lebih pintar, sehat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Upaya perbaikan juga mencakup penguatan literasi dan numerasi melalui Asesmen Nasional (AN). Asesmen ini menggantikan Ujian Nasional dan berfokus pada pengukuran kemampuan literasi, numerasi, dan karakter siswa, serta kondisi sekolah secara keseluruhan. Hasil asesmen digunakan sebagai acuan untuk perbaikan kualitas pendidikan di masing-masing sekolah, termasuk pengembangan program literasi dan numerasi yang lebih tepat sasaran.
Revitalisasi pendidikan di daerah terpencil dan tertinggal juga menjadi prioritas pemerintah. Program Sekolah Garis Depan (SGD) dan pengiriman guru ke daerah 3T bertujuan memperbaiki akses dan kualitas pendidikan di wilayah-wilayah ini. Selain itu, pemerintah meningkatkan fasilitas sekolah dan memberikan pelatihan khusus bagi guru di daerah tersebut untuk mendukung perbaikan mutu pendidikan secara menyeluruh.
Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan penyediaan sarana kebersihan serta kesehatan di sekolah-sekolah juga merupakan bagian dari upaya perbaikan, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan siswa. Pemerintah juga meningkatkan perhatian terhadap kesehatan mental siswa, mendorong sekolah-sekolah untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah anak.
Kemitraan dengan sektor swasta dan organisasi internasional turut memainkan peran penting dalam mendukung pendidikan dasar. Pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyediakan pelatihan, materi pembelajaran, dan dukungan infrastruktur yang lebih baik. Kerja sama ini bertujuan memperluas sumber daya dan dukungan untuk pendidikan di Indonesia.
Jika tahap perbaikan ini terus dilaksanakan dengan baik, pendidikan dasar di Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai berbagai kemajuan. Salah satu potensi utama adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan dasar yang lebih baik akan menghasilkan generasi siswa dengan kemampuan literasi, numerasi, dan keterampilan abad ke-21 yang lebih baik. Hal ini akan berkontribusi pada peningkatan daya saing Indonesia di pasar global dan mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inovatif.
Pengurangan ketimpangan pendidikan juga merupakan potensi besar. Dengan pemerataan akses pendidikan di daerah terpencil dan tertinggal melalui digitalisasi dan program pengiriman guru, kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan dapat semakin berkurang. Ini akan mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi antara berbagai wilayah di Indonesia, memastikan bahwa semua siswa memiliki peluang yang sama untuk meraih pendidikan berkualitas.
Penguasaan teknologi dalam pendidikan juga akan menjadi potensi besar. Melalui digitalisasi, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi digital dan revolusi industri 4.0. Indonesia dapat mempersiapkan tenaga kerja yang lebih siap dan berdaya saing tinggi, serta menciptakan inovasi di berbagai sektor ekonomi.
Peningkatan kesejahteraan dan kesehatan siswa melalui perhatian yang lebih besar pada lingkungan belajar yang sehat dan dukungan kesehatan mental juga berpotensi menciptakan generasi yang lebih sehat dan lebih siap untuk berkontribusi secara produktif di masyarakat. Peningkatan kemandirian belajar dan penguatan karakter siswa akan menciptakan individu yang lebih tangguh dan berdaya saing di masa depan.
Pendidikan dasar di Indonesia menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari kesenjangan akses hingga perbedaan kualitas pengajaran dan infrastruktur yang tidak merata. Dampak dari tantangan-tantangan ini sangat besar bagi siswa, memengaruhi prestasi akademik, motivasi belajar, dan kesejahteraan mental mereka. Namun, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya perbaikan yang signifikan, termasuk penerapan Kurikulum Merdeka, digitalisasi pendidikan, sertifikasi guru, dan program-program bantuan pendidikan seperti Indonesia Pintar.
Potensi pendidikan dasar di Indonesia sangat besar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengurangan ketimpangan pendidikan, penguasaan teknologi, dan peningkatan kesejahteraan siswa akan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan negara. Dengan komitmen yang kuat dan dukungan dari berbagai pihak, pendidikan dasar di Indonesia dapat berkembang menjadi lebih inklusif, berkualitas, dan mampu memenuhi tuntutan masa depan.
References:
Afifah, E. N. (2023, August 8). Permasalahan Pendidikan Tingkat SD Dan Mi di Indonesia: Tantangan Dan Upaya peningkatan. Permasalahan Pendidikan Tingkat SD dan MI di Indonesia: Tantangan dan Upaya Peningkatan – Klik Pendidikan. https://www.klikpendidikan.id/pendidikan/3589745678/permasalahan-pendidikan-tingkat-sd-dan-mi-di-indonesia-tantangan-dan-upaya-peningkatan
Antara. (2023, October 19). Papua Masih kekurangan guru, Muhadjir Effendy Usulkan solusi ini. Tempo. https://tekno.tempo.co/read/1785868/papua-masih-kekurangan-guru-muhadjir-effendy-usulkan-solusi-ini
Hamasy, A. I. A. (2023, June 21). Sistem Pendidikan Indonesia Masih perlu Banyak Perbaikan. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/06/21/rpjm
IDN Times, & Hamdani, T. (2024, September 4). Thomas Djiwandono sebut Ri Hadapi masalah kesenjangan infrastruktur. IDN Times. https://www.idntimes.com/business/economy/trio-hamdani/thomas-djiwandono-sebut-ri-hadapi-masalah-kesenjangan-infrastruktur
Info, R. (2023a, June 16). Penyebab Krisis pendidikan karakter di Indonesia Dan Upaya mengatasinya. kumparan. https://kumparan.com/ragam-info/penyebab-krisis-pendidikan-karakter-di-indonesia-dan-upaya-mengatasinya-20c1ugZgCR5
Info, R. (2023b, June 16). Penyebab Krisis pendidikan karakter di Indonesia Dan Upaya mengatasinya. kumparan. https://kumparan.com/ragam-info/penyebab-krisis-pendidikan-karakter-di-indonesia-dan-upaya-mengatasinya-20c1ugZgCR5
Kompasiana.com. (2024, April 18). Ketidakmerataan Pendidikan di Indonesia: Bagaimana Solusinya?. KOMPASIANA. https://www.kompasiana.com/amandasyafira/66211da4c57afb37197dbc82/ketidakmerataan-pendidikan-di-indonesia-bagaimana-solusinya
Service, T. M. (2024, January 31). Demi Indonesia Emas, Pendidikan Berkualitas Adalah Kunci. tirto.id. https://tirto.id/demi-indonesia-emas-pendidikan-berkualitas-adalah-kunci-gTNe