Wisudawan Terbaik PGSD BINUS Lulus dengan IPK 3,99! Simak Kisah Perjuangannya
Maria Angellica Devi Effendi, kerap disapa Maria, menyelesaikan studinya di PGSD BINUS dengan gemilang. Pada Wisuda 75 BINUS University yang diselenggarakan pada hari Minggu, 9 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Maria meraih penghargaan sebagai Wisudawan Terbaik (Best Graduate). Ia berhasil lulus hanya dalam 3,5 tahun dengan predikat summa cum laude dan IPK 3,99, nyaris sempurna.
Namun, kita semua tahu bahwa tidak ada pohon besar yang tumbuh dalam semalam. Capaian Maria lahir dari rangkaian tantangan dan tekanan yang berhasil ia lalui satu per satu. Bahkan, ia pun sempat merasa putus asa. Akan tetapi, dari titik-titik terendah itulah, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) BINUS ini menemukan jalannya menuju panggung Wisuda 75 dengan samir Best Graduate di pundaknya.
Keterbatasan Tidak Menjadi Penghalang
Banyak orang mungkin masih menganggap bahwa mendapat predikat atau gelar terbaik hanya lahir dari adanya keistimewaan (privilege). Perjalanan Maria justru dimulai dari kondisi yang terbatas. Keterbatasan ekonomi keluarga menjadikan beasiswa sebagai jalan baginya untuk dapat duduk di bangku kuliah. Di luar perkuliahan, ia juga menjalani pekerjaan paruh waktu (part-time job) sebagai guru les privat. Pada semester-semester awal saat jadwal kuliah sedang padat, Maria berkuliah di pagi hari, lalu langsung mengajar di siang harinya. Pola itu terus berulang setiap harinya.
“Mukjizat, luar biasa, dan berkat”, begitu Maria merangkum masa kuliahnya dengan tiga kata. Baginya, kesempatan untuk berkuliah di PGSD BINUS adalah anugerah yang harus dijalani sepenuh hati dan tidak dapat dianggap remeh.
Consistency is the Key
Sejak semester 1, Maria memiliki kebiasaan yang konsisten. Ia aktif mencatat di kelas, mencetak materi dari Binus Maya agar bisa langsung ditandai saat perkuliahan berlangsung, hingga mengenali gaya mengajar tiap dosen. Ia juga tidak pernah absen dari kelas, apapun kondisinya.
Namun, ada harga yang harus dibayar ketika Maria menjalani dua peran sekaligus sebagai mahasiswa dan guru les. Rutinitas “pagi kuliah, siang mengajar” yang berulang setiap hari membuat kondisi fisiknya menurun, hingga ia pernah sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
“Pasti capek banget. Tapi aku menganggap bahwa perkuliahan ini adalah sebuah berkat,” ujar Maria. Selama masa-masa berat itu, ia terus memegang prinsip sederhana: Do your best and let God do the rest.
Saat Semuanya Terasa Berat
Semester 4 menjadi salah satu masa sulit dalam perjalanan akademik Maria. Untuk pertama kalinya, ia harus menyusun karya ilmiah hasil penelitian sebagai “latihan” sebelum skripsi. Rasanya benar-benar awam. Perasaan takut tertinggal juga muncul ketika ia melihat teman-teman seangkatannya melaju dengan progress yang lebih mulus.
Ujian yang lebih berat pun datang ketika Maria memasuki masa skripsi pada semester 6 dan 7. Ia mengambil skripsi jalur percepatan 3,5 tahun sambil menjalani program magangnya selama satu tahun. Namun, mendapatkan izin penelitian skripsi di sekolah magangnya ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Padahal, tenggat pengumpulan proposal skripsi sudah semakin dekat. Tetapi, data penelitian belum juga ia dapatkan.
Fokus Pada Solusi, Bukan Masalah
Menghadapi tekanan yang bertubi-tubi, Maria memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan. “Jangan berfokus sama masalah, tapi berfokus pada solusi, kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk menyelesaikan hal ini,” ujar Maria. Ia aktif berkomunikasi dengan dosen pembimbing, orang tua, dan dosen penanggung jawab magang. Komunikasi yang ia lakukan membuahkan hasil yang baik. Ia mendapatkan penempatan magang di sekolah lain. Di sana, ia mendapatkan izin pengambilan data yang diperlukannya dengan mudah.
Rangkaian usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Dari konsistensi dalam belajar sejak semester awal, mengambil keputusan saat rencana gagal, hingga komunikasi yang terus dijaga dengan dosen dan orang tua. Maria dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik dengan IPK 3,99 dan predikat summa cum laude. Bonusnya, ia pun mendapatkan selempang bertuliskan summa cum laude, sertifikat summa cum laude, medali, piala, logam mulia 2 gram, dan beasiswa S2 100% di BINUS.
Pesan untuk Mahasiswa yang Sedang Berjuang
Bagi Maria, pencapaian ini bukan sekedar gelar. “Best graduate itu bukan hanya tentang title atau predikat, tetapi bagaimana simbol ketekunan dan kerja keras yang sudah dilakukan,” katanya. Ia menekankan bahwa hasil ini tidak lepas dari doa serta dukungan orang tua, dosen, dan teman-teman seperjuangan.
Maria menitipkan satu pesan yang menjadi kunci sepanjang perjalanannya, yaitu konsistensi. “Ketika kalian konsisten, disiplin, dan mau tahu, hal baik akan datang. Bukan cuma di perkuliahan, tapi juga di keseharian dan dunia kerja nanti,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya rendah hati menerima masukan dari mentor, dosen, dan orang tua. “Ketika mereka memberikan reminder dan masukan, itu bukan karena mereka benci… tetapi karena mereka peduli, karena mereka sayang, karena mereka mau kita menjadi yang terbaik,” tutupnya.
Perjalanan Maria menunjukkan bahwa menjadi yang terbaik bukan soal siapa yang paling mudah jalannya. Menjadi yang terbaik adalah tentang siapa yang mau bertahan, mencari solusi saat menemui jalan buntu, dan terus konsisten meski lelah bertubi-tubi.
Ilmu yang ia peroleh selama berkuliah di PGSD kini ia terapkan langsung sebagai edupreneur, dengan bekerja sebagai manager di bimbingan belajar CareHouse milik keluarganya. Predikat Wisudawan Terbaik yang ia raih, menjadi bekal baru baginya untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan.

Comments :