Dari Papua, Kembali untuk Papua: Jejak Alumni PGSD BINUS yang Kini Mengajar di Tanah Asal
Bagi sebagian orang, pendidikan tinggi adalah tentang meraih gelar. Namun bagi Bartolomeus Manamces, Clarita Daenjel Herawati Farneubun, Imelda Bapaimu, Sisilia Susana Farneubun, dan Yasinta Nunggut, perjalanan mereka di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) BINUS merupakan sebuah misi untuk kembali dan membawa perubahan bagi tanah kelahiran mereka, Papua.
Kesempatan beasiswa di BINUS University yang mereka terima menjadi titik awal dari perjalanan tersebut. Berkuliah di PGSD BINUS tak hanya membekali mereka dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara pandang tentang peran seorang guru. Kini, komitmen itu terwujud dalam keseharian mereka sebagai pendidik di Kabupaten Agats, wilayah suku Asmat, di mana tantangan pendidikan masih sangat nyata.
Tantangan Pendidikan di Agats
Nyatanya, kegiatan belajar mengajar di sana tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Di beberapa kelas, dari sekitar 15-20 siswa yang terdaftar, hanya 5 sampai 7 siswa yang hadir setiap hari. Rendahnya kehadiran ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga dukungan keluarga terhadap pendidikan. Banyak siswa datang ke sekolah tanpa sarapan, bahkan ada yang berangkat dalam keadaan lapar. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kehadiran dan semangat belajar siswa, walau bukanlah satu-satunya tantangan yang mereka hadapi.
Meskipun demikian, Bartolomeus, yang menjadi wali kelas 5 di SD YPPK Roh Kudus Bayun, berupaya membangun ketertarikan siswa untuk datang ke sekolah melalui pembelajaran yang lebih menarik dengan memanfaatkan permainan edukatif yang dipelajarinya selama kuliah di PGSD BINUS. Dengan pendekatan tersebut, ia berusaha menumbuhkan motivasi belajar siswa dari dalam diri mereka, sehingga kehadiran di sekolah tidak hanya bergantung pada faktor eksternal.
Sementara itu, Clarita yang mengajar di SD YPPK Martir-Martir Muda Uganda Komor menghadapi tantangan berbeda, di mana kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan masih rendah. “Orang tua di sini tidak selalu mengharuskan anaknya untuk sekolah,” tuturnya. Oleh karena itu, peran guru menjadi sangat penting dalam membangun motivasi belajar dari dalam kelas.
Di tempat lainnya, Imelda yang mengajar di SD YPPK Hati Kudus Pirimapun menggambarkan kondisi sekolah yang penuh keterbatasan, namun tetap menyimpan semangat belajar yang besar. Sekolah dengan sekitar 280 siswa ini bahkan harus mengalihfungsikan ruang guru menjadi ruang kelas karena jumlah siswa kelas rendah yang terlampau banyak. Dalam satu ruangan, puluhan siswa belajar dalam kondisi berdesakan, sementara buku paket tidak lagi tersedia karena sebagian telah rusak dimakan serangga. Guru harus mencari materi secara mandiri melalui internet, dengan dukungan listrik tenaga surya dan jaringan terbatas. Selain tantangan kehadiran dan fasilitas, kemampuan dasar siswa juga masih menjadi perhatian utama. Masih terdapat siswa di kelas atas (kelas 4-6) yang belum lancar membaca ataupun belum memahami konsep matematika sederhana.
Bekal dari BINUS untuk Pendidikan di Papua
Apa yang Bartolomeus dkk pelajari selama berkuliah di PGSD BINUS kini benar-benar mereka terapkan, termasuk dalam pemanfaatan teknologi. Kehadiran perangkat seperti Smart TV yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal di sekolah, kini mulai digunakan dalam proses pembelajaran. Clarita menjelaskan bahwa pengalaman kuliah membantunya beradaptasi dengan teknologi tersebut. Ia mengatakan, “Setelah berkuliah di PGSD BINUS, kami jadi terbiasa menggunakan teknologi. Kami bisa mengoperasikan Smart TV yang diberikan oleh pemerintah dan memanfaatkannya untuk pembelajaran. Kami gunakan untuk menampilkan video, materi, dan media pembelajaran digital yang membuat anak-anak lebih tertarik; sesuatu yang dulu bahkan kami sendiri belum rasakan saat masih menjadi siswa.”
Tidak berhenti pada penggunaan teknologi di kelas mereka sendiri, Clarita dkk juga membantu guru lain untuk memanfaatkannya. Di beberapa sekolah, masih banyak guru yang belum terbiasa menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Kehadiran para alumni PGSD BINUS ini menjadi jembatan bagi perubahan tersebut. Secara perlahan, mereka mengajarkan cara menggunakan Smart TV serta memanfaatkan media digital kepada rekan guru lainnya. Dengan demikian, dampak yang mereka bawa tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh para guru di lingkungan sekolah.
Perubahan mulai terlihat perlahan. Melalui pembiasaan membaca, penggunaan media belajar sederhana, pemanfaatan teknologi, serta pendekatan pembelajaran interaktif yang dilakukan para alumni PGSD BINUS, siswa di sekolah mereka mulai menunjukkan perkembangan. Beberapa di antaranya sudah mulai lebih lancar membaca dan lebih aktif mengikuti pembelajaran di kelas. Lebih dari sekadar mengajar, alumni BINUSIAN 2025 itu juga menjadi bagian dari inovasi di lingkungan sekolah. Mereka membantu membangun kebiasaan belajar yang lebih baik, memperkenalkan metode baru, serta mendorong guru lain untuk mulai memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Di tengah keterbatasan fasilitas, jumlah tenaga pengajar, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat, kehadiran mereka membawa warna baru dalam dunia pendidikan setempat.
Harapan Alumni PGSD BINUS
Melalui pengalaman yang kini mereka jalani, para alumni PGSD BINUS ini menggantungkan harapan besar bagi masa depan pendidikan di Asmat. “Anak-anak semakin rajin datang ke sekolah, memiliki semangat belajar yang tinggi, serta mampu menguasai keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung,” ujar Yasinta. Mereka juga berharap adanya peningkatan kesadaran dari orang tua serta kualitas guru dalam membimbing siswa. Bagi mereka, pendidikan yang menyenangkan dan relevan diharapkan dapat menjadi kunci untuk membawa perubahan yang lebih luas di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Perjalanan Bartolomeus, Clarita, Imelda, Sisilia, dan Yasinta menjadi bukti bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk menciptakan dampak nyata. Apa yang mereka bawa pulang dari PGSD BINUS bukan hanya pengetahuan, tetapi juga semangat untuk membangun, menginspirasi, dan membuka peluang bagi generasi berikutnya. Papua bagi mereka bukan sekadar tempat asal, melainkan tujuan dari perjalanan yang mereka pilih dengan penuh kesadaran.
Learn. Return. Impact. That’s PGSD BINUS!
Stay tuned to read more inspiring stories!








Comments :