Studi komparasi bagian I

Hasil pisa 2018 menunjukkan bahwa rata-rata capaian siswa yang tergabung dalam assessment tersebut terutama dalam mata pelajaran IPA adalah 489. Score capaian siswa SD di Indonesia berada pada poin 396 yaitu menduduki rangking 6 terbawah, atau rangking 72 dari 77 negara. Lalu negara manakah yang menduduki peringkat pertama? Siswa di beberapa wilayah di China menduduki 6 peringkat atas sekaligus pada assessment ini. Peringkat 1 dengan score 590 diduduki siswa dari wilayah Beijing, Shanghai, Jiangshu, dan Zejhiang (B-S-J-Z) China. Kemudian di peringkat ke 3 diduduki siswa dari Macau, China, dengan score 544, dan pada peringkat ke 6 diduduki siswa dari Hongkong, China dengan score 517. Melihat pencapaian tersebut tentu membuat kita penasaran bagaimana cara belajar mereka.

Menurut artikel berjudul “Trend and Development of school science Education in Taiwan, hongkong, and Korea” yang terbit pada jurnal researchgate pada tahun 2016, diketahui bahwa semenjak tahun 2005 terjadi sebuah reformasi tujuan pendidikan sains dari “Elite Education” menjadi “Education for All” yang lebih menitikberatkan pada pengembangan literasi sains untuk semua (Scientific Literacy for all). Hal ini juga didukung berubahnya kurikulum pendidikan yang tersentralisasi menjadi beberapa “acuan” kurikulum (curriculum guidelines) yang dikembangkan pihak swasta, dimana strategi pembelajaran yang tercantum dalam acuan kurikulum didukung oleh teori pembelajaran kontemporer, dan divalidasi oleh ahli psikologi pendidikan. Acuan kurikulum ini membebaskan pihak sekolah dan guru untuk memilih konsep yang akan diajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya di sekolah masing-masing. Dasar pengorganisaisan bahan ajar juga berpindah fokus dari struktur kaku subject matter yang wajib diajarkan menjadi proses saintifik dan keretampilan inquiry yang dianggap lebih dibutuhkan untuk perkembangan kogtnitif dan sosial siswa. Capaian utama dari perubahan kurikulum yang dilaporkan dan diamati ternyata adalah penurunan tingkat stress siswa selama mengikuti kegiatan belajar sains.

Pendidikan sains adalah mata pelajaran wajib yang diampu dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP para siswa di Hong Kong. Pemerintah Hong Kong bahkan menyebut pendidikan IPA adalah salah satu dari delapan Area Pembelajaran Utama (Key Learning Area). Pendidikan sains bertugas untuk memberikan pengalaman belajar dimana siswa dapat memperoleh literasi sains, dan mengembangkan pemahaman dan pengetahuan saintifik yang dibutuhkan agar dapat berkontribusi pada perkembangan dan literasi teknologi dunia. Pokok utama dari perkembangan pendidikan sains ini adalah pemberian kewenangan dan kebebasan pihak sekolah atas pilihan konsep sains yang akandiajarkan sesuai kebutuhan sekolah dan siswa yang diterapkan dalam General Studies (GS) yang merupakan subjek interdisipliner yang berfokus pada pendidikan personal, social dan kemanusiaan, pendidikan sains, dan pendidikan teknologi. Acuan kurikulum GS menekankan pada (1). Pemberian bantuan pada siswa untuk memahami dirinya dan dunia di sekitar mereka, (2). Merangsang ketertarikan siswa dan mengembangkan keterampilan mereka untuk mampu senantiasa bersikap kritis pada perkembangan sains, teknologi dan masyarakat. (3). Menanamkan sikap dan nilai positif untuk kesehatan diri dan social. Guru sebagai fasilitator kegiatan pembelajaran didorong untuk mengadopsi anekaragam strategi belajar dan pembelajaran serta menarik siswa untuk melakukan invesitigasi sains secara langsung.

Setelah membaca kurikulum pembelajaran di Taiwan, dan Hongkong yang mewakili China sebagai juara PISA, tentu kita juga merasa sudah familiar dengan pendekatan literasi, hands-on, dan konsep-konsep yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013. Nah karena ternyata Kurikulum kita sudah baik, maka mari kita perbaiki kualitas diri kita sebagai pendidik dan pengajar untuk dapat menjadi fasilitator terbaik untuk anak-anak didik kita.

Fransiska Astri Kusumastuti, S.Pd., M.Pd.