Pendidikan Jarak Jauh

Pembelajaran saat ini sudah memasuki paradigma baru. Pembelajaran dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, tidak terbatas ruang dan waktu. Pendidikan yang menggunakan pembelajaran seperti itu di antaranya adalah Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dimana peserta didik berbeda tempat dengan pengajar dan belajar dapat dilakukan dimanapun  dan kapanpun.

Pemahaman pendidikan jarak jauh  mengacu pada pengertian yang diungkapkan oleh Moore dalam kutipan sebagai berikut:

”Distance education is planned learning that normally occurs in a different place from teaching and as a result requires special techniques of course design, special instructional techniques, special methods of communication by electronic and other technology, as well as special organizational and administrative arrangement.”

Jika diterjemahkan secara bebas, pernyataan tersebut di atas mengandung makna bahwa pendidikan jarak jauh merupakan pendidikan yang dirancang untuk peserta yang berbeda tempat dengan pengajar. Sebagai konsekuensinya dibutuhkan: disain strategi pembelajaran yang khusus, metoda komunikasi melalui elektronika dan teknologi lain yang khusus, juga pengaturan organisasi dan administrasi yang khusus.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Suparman, yang mendeskripsikan pendidikan jarak jauh sebagai berikut: “(1) PJJ ditandai dengan jauhnya jarak antara orang yang belajar, baik dengan pengajar maupun dengan pusat pengelola pendidikan; (2) PJJ lebih banyak menggunakan dan mengandalkan pada penggunaan media, baik media cetak, media audiovisual dan atau media elektronik daripada menggunakan pengajaran tatap muka; (3) Siswa tidak selalu berada dalam bimbingan belajar; (4) Siswa dapat belajar dimana saja, kapan saja, dan dapat memilih program-program menurut kebutuhannya sendiri; (5) PJJ menawarkan program-program yang jenis dan tujuannya sama seperti pendidikan biasa pada umumnya, walaupun strategi penyelenggaraan proses instruksionalnya yang menggunakan media dan dapat mengandalkan belajar mandiri siswa, berbeda dengan strategi pengajaran tatap muka pada pendidikan biasa; (6) PJJ menjadi arena penyebaran keahlian dalam sistem instruksional secara luas, karena prinsip-prinsip belajar dan prinsip pembelajaran yang digunakan dalam bahan ajar jarak jauh sama dengan prinsip-prinsip pengajaran tatap muka; (7) Pengelolaan PJJ beroperasi seperti industri karena berbagai subsistem di dalamnya memang merupakan kegiatan industri, seperti subsistem produksi dan reproduksi bahan ajar, subsistem distribusi bahan ajar dan bahan registrasi, serta subsistem jaringan komunikasi baik untuk kebutuhan administratif maupun akademik.

Berikut ini dua belas prinsip-prinsip umum dalam merancang pembelajaran jarak jauh, yang dikemukakan oleh Moore dan Kearsley; (1) Good structure. Pengorganisasian proses pembelajaran dan materi ajar haruslah dirancang dengan baik, jelas dan konsisten; (2) Clear objectives. Tujuan pembelajaran haruslah jelas sehingga proses identifikasi pengalaman belajar yang sesuai, penentuan pilihan teknologi yang tepat, serta proses evaluasi, menjadi mudah. Baik tutor maupun peserta mengetahui dengan tepat tingkat penguasaan yang diharapkan oleh mata kuliah terkait; (3) Small unit. Isi mata kuliah dan cara penyampaian materi pelajaran diorganisasikan dan disajikan dalam unit-unit kecil, untuk memudahkan proses pemahaman; (4) Planned participation. Peluang untuk berinteraksi melalui berbagai aktivitas peserta atau berbagai latihan, terkandung dalam rancangan pembelajaran dan materi ajar; (5) Completness. Materi ajar atau program haruslah mengandung antara lain komentar-komentar yang luas dan relevan, contoh-contoh dan sebagainya seperti layaknya terdapat pada pembelajaran tatap muka; (6) Repetition. Pokok bahasan yang penting harus diulang secara periodik untuk memberikan penekanan dan mengkompensasi keterbatasan kemampuan mengingat peserta; (7) Synthesis. Ide penting yang diekspresikan dalam materi dan yang dikontribusikan oleh peserta harus terjalin secara terpadu, terutama dalam bahasan kesimpulan; (8) Stimulation. Upaya menangkap dan mempertahankan perhatian peserta pada isi mata kuliah melalui berbagai tampilan dan format yang menarik; (9) Variety. Informasi harus disajikan dalam berbagai bentuk format dan media yang berbeda untuk menarik berbagai minat dan latar belakang peserta; (10) Open-ended. Tugas, contoh-contoh, dan masalah haruslah terbuka atau tidak terbatas (open-ended); (11) Feedback. Para peserta harus menerima umpan balik (feedback) secara teratur atas kemajuan hasil belajarnya; (12) Continous evaluation. Efektivitas bahan ajar, media dan metoda pembelajaran harus secara rutin dievaluasi menggunakan berbagai metoda.

Ubaidah, S.Pd., M.Pd