GURU HARUS MENGEMBANGKAN FILSAFAT PENDIDIKAN SENDIRI

Oleh:
Ferry Doringin

Struktur kurikulum di PGSD Binus menyajikan dua mata kuliah yang khas, yakni Filsafat Ilmu dan Filsafat Pendidikan. Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan seorang dosen kepada penulis yang mengapu dua mata kuliah itu: “Apakah Filsafat Pendidikan itu perlu diajarkan?” Jawaban ‘ya’ dan argumennya disampaikan dalam tulisan ini.

 Anda akan setuju apabila dikatakan bahwa pertanyaan berikut merupakan pertanyaan mendasar dan sangat penting mengenai pendidikan: Apa artinya menjadi seorang guru? Apakah hal terpenting yang harus kita ajarkan? Bagaimana caranya kita mengajarkan hal-hal itu? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan yang terkait dengan Filsafat Pendidikan.

Pemahaman mengenai pendidikan itu bisa makin difokuskan pada pengetahuannya (epistemologi), hakekat terdalamnya (ontologi) atau tentang nilai-nilainya (aksiologi). Pertanyaan terkait dengan epistemologi adalah: Apakah pengetahuan itu? Bagaiaman kita mengetahuinya? Bagaimana kita memperolehnya? Ontologi yang juga memasukkan metafisika, didalami dengan pertanyaan: apa realitasnya? Apa unsur yang mendasari atau yang terdalam? Apakah artinya menjadi seorang guru? Sedangkan aksilogi bertanya menenai: Apakah yang menjadi tujuan pendidikan? Apakah yang paling kita hargai dari pendidikan? Manakah elemen kurikulum yang harus lebih dihargai dibandingkan dengan nilai-nilai yang lain?

Secara lebih mendalam lagi, Filsafat Pendidikan bertanya mengenai pembelajaran yang efektif dan dikemukakanlah filsafat yang dianggap pro-perubahan dan lawannya, yakni filsafat anti-perubahan. Yang termasuk Filsafat Pendidikan pro-perubahan adalah Filsafat Pragmatisme, Eksistensialisme, dan Rekonstruktivisme. Filsafat model ini menyatakan bahwa pendidikan yang efektif menempatkan siswa atau pembelajar sebagai subjek. Pelajar harus mengkonstruksi pengetahuan melalui aktivitasnya dan mereka tidak boleh pasif.

Aliran filsafat pro-perubahan ini mengatakan bahwa pengetahuan itu berubah dan tergantung konteks. Karena itu, siswa belajar dengan merespon konteks hidupnya agar bisa hidup lebih baik. Dalam pragmatisme, belajar adalah upaya untuk memperoleh ketrampilan tentang bagaimana menjalani hidup sekarang. Eksistensialisme juga menyatakan hal yang hampir sama, yakni belajar adalah upaya untuk memperoleh ketrampilan tentang cara membuat pilihan-pilihan sebagai manusia bebas pada saat sekarang ini.

Filsafat anti-perubahan yang menjadi lawan dari filsafat yang dijelaskan di atas, percaya bahwa pengetahuan itu tidak berubah dan merupakan prinsip-prinsip dasar yang harus dikuasai siswa. Tugas guru adalah mentransfer pengetahuan sedangkan siswa adalah penerima pengetahuan. Pendukung aliran anti-perubahan adalah Perenialisme dan Esensialisme.

Filsafat pro-perubahan menegaskan bahwa cara belajar harus dinamis dan mengikuti situasi. Sebaliknya, filsafat anti-perubahan menekankan tertib dan disiplin dalam belajar.

Filsafat manakah yang harus diikuti oleh seorang guru? Sangat penting bahwa guru memahami mengenai filsafat pendidikan yabng harus digunakan di kelasnya dengan mendasarkan itu pada sejumlah pertimbangan. Lebih dari itu, setiap guru harus membangun Filsafat Pendidikannya sendiri. Filsafat Pendidikan adalah konsepsi guru untuk mengajar dan belajar. Dia harus mengetahui bagaimana dia mengajar, dan mengapa dia menciptakan pembelajan model tertentu. Mengapa model ini yang dipilih dan bukan yang lainnya.

Harus dikatakan, dengan memahami Filsafat Pendidikan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam diri guru ketika mengajar. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu adalah kekayaan yang tidak ternilai. Pertanyaan itu, misalnya:  Apa yang Anda yakini sebagai tujuan Pendidikan? Bagaimana harus mewujudkan tujuan pendidikan ini? Siapa saja yang harus belajar? Apakah guru juga harus belajar?

Pertanyaan lainnya: Siapa yang harus mengarahkan pembelajaran? Apakah guru selalu harus mengarahkan pembelajaran? Bisakah siswa juga mengarahkan pembelajaran? Bagaimana seharusnya sekolah mengajarkan konten dan skill? Bagaimana seharusnya pembelajaran itu dievaluasi?

Filsafat Pendidikan membantu guru memperoleh arah. Guru terbaik muncul dari dia yang memahami Filsafat Pendidikan dan mampu menjawab sejumlah pertanyaan mendasar dari filsafat itu. Dengan demikian, setiap guru juga bisa melakukan refleksi: Siapa guru terbaik yang pernah Anda lihat? Mengapa? Keterampilan, kualitas, atau nilai apa yang membuat orang ini menjadi guru yang hebat? Sudahkah Anda mempraktekkan keterampilan, kualitas, atau nilai yang pernah dipraktekkan oleh guru terbaik ini?

Teruslah bertanya lagi mengenai hal-hal yang membuat Anda sukses dalam mengajar? Bagaimana Anda mengukur sukses itu? Apakah siswa membawa pulang sesuatu dari materi yang Anda ajarkan? Apakah siswa mengalami perkembangan? Teruslah bertanya dan jawaban-jawaban yang tepat membawa guru pada pembuatan Filsafat Pendidikannya sendiri.

Ferry Doringin