People Innovation Excellence

Mutu pendidikan kita masih rendah, Apa yang terjadi?

Oleh:

Fransiska Astri

Pendidikan dalam bentuk sederhananya adalah sebuah titik yang menentukan maju atau mundurnya sebuah Negara. Tanpa pendidikan, akal manusia tidak bisa didayagunakan, sumber alam akan habis tanpa sisa, dan manusia hanya akan menjadi seonggok daging pragmatis yang tidak dapat mengupayakan usaha-usaha untuk memajukan negaranya.

Bourdieu (Tilaar, 2009) menekankan bahwa pendidikan adalah bagian dari struktur masyarakat. Tanpa pendidikan, masyarakat tidak dapat melanjutkan kehidupannya, karena melalui pendidikanlah masyarakat diikat dalam kesepakatan, adat istiadat, peraturan, dan norma yang dituruntemurunkan. Banyak peran penting pendidikan yang tidak dapat digantikan bidang lain dalam regulasi kehidupan. Tilaar (2009, 21) menyatakan bahwa proses pendidikan adalah proses untuk memberikan kemampuan kepada individu untuk dapat memberikan makna terhadap dirinya dan lingkungannya.

Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia kemudian menjadi titik kunci sulit terlepasnya Negara kita dari krisis yang telah berlangsung selama hampir 1,5 dekade ini. PISA, Programme for International Student Assessment secara berkala, per tiga tahun, terhitung sejak tahun 2000 membuat skala penilaian terhadap  siswa yang berusia 15 tahun dari 65 negara maju dan negara berkembang. Kriteria penilaian PISA mencakup kemampuan kognitif (knowledge) dan juga keterampilan siswa di bidang READING, MATHEMATICS dan SCIENTIFIC LITERACY (kemampuan sains). Penilaian terakhir, pada tahun 2009 menunjukkan bahwa Negara kita berada di peringkat 6 terbawah dari 65 negara; Reading (57), Matematika (61) dan Sains (60). Bisa di lihat di: http://www.straitstimes.com/STI/STIMEDIA/pdf/20101207/PISA2009-MOEFinal.pdf

PISA mengatakan bahwa cara untuk mempersiapkan anak-anak dalam menghadapi tantangan masa depan adalah dengan meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan menganalisis, mencari sebab dan akibat, serta berkomunikasi secara efektif. Peningkatan kemampuan tersebut akan membantu  anak-anak dalam partisipasi aktif mereka ketika bersosialisasi dengan masyarakat dan membantu penyelesaian permasalahan yang sedang dihadapi. Sudahkan pendidikan kita sesuai dengan tujuan PISA? Yaitu membekali anak didik dengan kemampuan kognitif dan keterampilan yang menunjang sehingga anak didik kita siap untuk menghadapi tantangan kebutuhan masyarakat di masa depan?

Sebuah reality show di saluran televisi swasta pernah mengulas beberapa hal dalam kegiatan belajar mengajar di Indonesia yang berbeda dari Negara lain, yang mungkin juga memiliki andil dalam merosotnya produktivitas pendidikan di Indonesia. Hal tersebut adalah:

  1. Pembelajaran Hanya Pada Buku Paket
  2. Pembelajaran Terpaku pada Metode Ceramah
  3. Kurangnya Sarana Belajar
  4. Peraturan Yang Terlalu Mengikat
  5. Guru Tidak Menanamkan Soal Bertanya
  6. Metode Pertanyaan Terbuka Tidak Terpakai
  7. Fakta Tentang Menyontek

Walaupun tidak berdasarkan analisis ilmiah yang relevan, fakta yang dikemukakan tersebut tidaklah salah. Seorang professor mengatakan bahwa mindset semua guru tentang pola pendidikan yang ada perlu dirubah. Guru-guru di Indonesia ini sudah old-fashion dengan cara pendidikan yang serupa dengan pendidikan 300 tahun silam. Kelas yang pasif, rapih, sunyi, dan hanya guru yang menjadi pusat pembelajaran harus segera dihapuskan. Pembelajaran dari hari ke hari seharusnya menggunakan pola, metode, pendekatan dan strategi yang berbeda sehingga meningkatkan keingintahuan dan ketertarikan siswa.

Selain dalam kegiatan belajar mengajar, ada beberapa hal pula yang menjadi kendala dalam pendidikan Indonesia dalam konteks kenegaraan. Dikutip dari Indonesia Policy Briefs, yang di terbitkan oleh The World Bank, berikut adalah kendala tersebut:

  1. Tidak semua anak di Indonesia bersekolah

Data menunjukkan angka partisipasi kotor anak didik di Indonesia terutama di pulau-pulau yang jauh dari ibu kota masih rendah. Banyak yang memilih melanjutkan pekerjaan orang tuanya untuk menjadi petani, nelayan atau penenun yang lebih cepat menghasilkan uang.

  1. Anak dari kelompok miskin keluar dari sekolah lebih dini

Daripada untuk membayar hal-hal keperluan penunjang sekolah, anak-anak dari kelompok miskin cenderung menurun partisipasinya ketika mereka sudah merasa mampu membaca, menulis dan berhitung.

  1. Kualitas sekolah di Indonesia selama ini masih rendah dan cenderung memburuk

Selama ini ekspansi sekolah tidak menghasilkan lulusan dengan pengetahuan dan  keahlian  yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang kokoh dan ekonomi yang kompetitif di masa depan. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan ekonomi yang kuvanya terus menurun.

  1. Persiapan dan kehadiran tenaga pengajar masih kurang

Di Negara ini, siapapun yang mau boleh mengajar. Tanpa bekal apapun, asalkan mau, seseorang boleh menjadi tenaga pengajar. Lebih diperparah lagi dengan banyaknya STKIP baru yang belum profesional yang memberikan lisensi mengajar kepada lulusannya, serta guru berlabel PNS yang mengajar dengan metode “suka-suka”.

  1. Pemeliharaan sekolah-sekolah, terutama sekolah negri tidak dilakukan secara berkala

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masih banyak sekolah negri yang masih berada pada kondisi yang memprihatinkan dan tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah masih harus melanjutkan regulasinya dalam mencetak putra-putri penerus generasi bangsa. Dihadapkan dengan situasi belajar semacam itu, generasi macam apa yang akan terbangun?

Kendala-kendala tersebut sebenarnya sudah diantisipasi pemerintah melalui kebijakannya yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementrian Pendidikan Nasional, namun pelaksanaannya saja yang masih belum maksimal. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam dunia pendidikan kita. Dan hal ini membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat. Pertanyaannya adalah, siapkah kita berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan Negara kita? Kita sendiri yang tahu jawabannya.

Daftar pustaka

PISA.(2010). The OECD Programme for International Student Assessment. [online]. Tersedia di http://www.pisa.oecd.org/pages/0,3417,en_32252351_32235731_1_1_1_1_1,00.html (2 april 2012)

ON THE SPOT : 7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia,(2012). 7 Fakta Penyebab Mutu Pendidikan di Indonesia Rendah. [online]. Tersedia di http://onthespot7langka.blogspot.com/2012/01/7-fakta-penyebab-mutu-pendidikan-di.html (2 april 2012)

The World Bank.(-).Peningkatan Kualitas Pendidikan.- : –


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close